D
i kalender finance director pabrik itu, tanggal 15 dilingkari setiap bulan. Sudah empat tahun. Bukan tenggat dari bank, bukan permintaan auditor. Itu tanggal paling cepat yang pernah tercapai, dan sekarang diperlakukan sebagai hukum alam.Tanggal 15 Juli, laporan Juni akhirnya keluar. Nilai persediaan akhir Rp 1.842.000.000.
Di file manajer gudang, angkanya Rp 1.906.000.000.
Selisihnya Rp 64.000.000, dan dua-duanya bisa dipertahankan. Gudang menghitung dari kartu stok dan opname fisik. Finance menghitung dari pembelian dan pengeluaran yang sudah dibukukan. Dua metode, dua hasil, nol pihak yang salah.
Tutup buku pabrik lama hampir selalu karena alasan yang sama: gudang menghitung unit, finance menghitung nilai, dan tidak ada apa pun yang menyatukan keduanya secara otomatis. Jadi setiap bulan ada satu orang yang menyatukannya dengan tangan, di bawah tekanan waktu, di akhir bulan, sambil mengerjakan pekerjaan lainnya. Hasilnya bisa diprediksi.
Pertanyaannya bukan siapa yang benar. Yang harus kamu putuskan: apakah selisih Rp 64.000.000 itu layak dikejar, dan kalau ya, dalam urutan apa.
Kenapa angka gudang dan angka finance selalu berbeda?
Karena dua tim itu menjawab dua pertanyaan yang berbeda, dan keduanya memang harus berbeda.
Gudang menjawab "ada berapa barang". Satuannya pcs, kilogram, meter, drum. Yang penting bagi gudang adalah apakah barangnya cukup untuk produksi minggu depan, dan apakah lokasinya benar. Nilai rupiah tidak relevan untuk keputusan itu.
Finance menjawab "berapa nilainya". Satuannya rupiah. Yang penting bagi finance adalah nilai persediaan yang bisa dipertanggungjawabkan di neraca, dan HPP yang menghasilkan laba yang bisa diaudit. Jumlah drum tidak relevan sampai dikalikan harga, dan harga mana yang dipakai adalah keputusan akuntansi tersendiri.
Selisih muncul di empat tempat yang spesifik, dan biasanya keempatnya ada sekaligus.
Barang sudah diterima gudang tapi fakturnya belum masuk. Gudang mencatat barangnya ada. Finance belum punya dasar untuk mencatat nilainya. Sah di kedua sisi, dan selisih ini normal serta akan hilang sendiri.
Bahan sudah turun ke produksi tapi belum dibukukan keluar. Ini yang tidak akan hilang sendiri, dan biasanya yang paling besar nilainya.
Harga yang dipakai berbeda. Gudang memakai harga beli terakhir karena itu yang dia ingat. Finance memakai rata-rata bergerak atau standar. Untuk bahan yang harganya naik 20 persen dalam tiga bulan, dua metode ini menghasilkan angka yang jauh berbeda dari kuantitas fisik yang sama persis.
Bahan yang ada di vendor makloon. Gudang tidak menghitungnya karena barangnya tidak di rak. Finance sering sudah menghapusnya. Jadi barangnya tidak ada di dua-duanya, padahal barangnya ada.
Dari empat itu, cuma yang pertama yang wajar. Tiga sisanya adalah pekerjaan yang belum dilakukan, dan menyalahkan salah satu tim untuk itu adalah kesalahan diagnosis yang mahal, karena yang perlu diperbaiki ada di antara mereka, bukan di dalam salah satunya.
Kalau selisih yang kamu hadapi terkonsentrasi di bahan baku dan hilang di barang jadi, penyebabnya pembukuan pemakaian, dan ada cara memisahkannya dari kemungkinan lain dalam setengah hari kerja.
Apa bedanya periodic dan perpetual inventory, dan kenapa itu menentukan tanggal tutup buku?
Ini keputusan teknis yang paling menentukan kecepatan tutup buku kamu, dan biasanya tidak pernah diambil secara sadar. Pabrikmu mewarisinya dari cara kerja lima belas tahun lalu.
Periodic artinya nilai persediaan cuma diketahui saat dihitung. Di antara dua penghitungan, nilainya tidak diketahui. HPP dihitung belakangan dengan rumus persediaan awal ditambah pembelian dikurangi persediaan akhir, dan persediaan akhir itu baru ada setelah opname. Konsekuensinya langsung: tutup buku tidak bisa mulai sebelum opname selesai, dan opname tidak bisa dilakukan sambil produksi jalan.
Perpetual artinya setiap pergerakan barang langsung mengubah nilai persediaan pada saat pergerakan itu terjadi. Nilai persediaan hari ini diketahui hari ini, jam ini. Opname berubah fungsi, dari sumber angka menjadi verifikasi angka yang sudah ada.
| Periodic | Perpetual | |
|---|---|---|
| Nilai persediaan diketahui | hanya saat opname | setiap saat |
| Dasar angka HPP | selisih persediaan awal dan akhir | akumulasi transaksi |
| Yang dibutuhkan di lantai | opname berkala | pencatatan setiap pergerakan |
| Efek ke tutup buku | tutup buku menunggu opname | opname tidak memblokir tutup buku |
| Beban harian | ringan | nyata, dan harus dibiasakan |
| Cocok untuk | SKU sedikit, proses satu tahap | multi gudang, multi shift, ada WIP |
Baris terakhir yang penting. Perpetual bukan versi yang lebih baik dari periodic secara universal. Perpetual memindahkan beban dari akhir bulan ke setiap hari, dan pabrik yang belum siap menanggung beban harian itu akan menghasilkan data perpetual yang salah, yang jauh lebih berbahaya daripada data periodic yang jujur terlambat.
Angka HPP yang masuk ke penilaian persediaan juga harus benar lebih dulu, dan rumus yang dipakai sebagian besar pabrik memang belum memasukkan barang setengah jadi.
Berapa biaya tutup buku tanggal 15?
Tiga biaya, dan yang ketiga jarang masuk hitungan padahal paling besar.
Biaya orang. Dua orang mengerjakan rekonsiliasi manual enam hari kerja setiap bulan, gaji Rp 8.500.000 per orang. Rp 8.500.000 ÷ 22 hari × 6 hari × 2 orang = Rp 4.636.000 per bulan, atau Rp 55.632.000 setahun. Ini biaya yang paling gampang dibantah, karena orangnya sudah digaji dan tetap masuk kerja. Yang hilang bukan kasnya, tapi dua belas hari kerja per bulan yang seharusnya dipakai menganalisis sesuatu.
Biaya keputusan. Data Juni final tanggal 15 Juli, dan dipakai untuk keputusan sepanjang Juli sampai Agustus. Umur rata-rata angka saat keputusan diambil sekitar 45 hari. Di pabrik ini, konsekuensinya satu keputusan harga yang salah per kuartal dengan dampak rata-rata Rp 36.000.000. Rp 36.000.000 × 4 kuartal = Rp 144.000.000 setahun.
Biaya kredit. Ini yang membuat topik ini berhenti jadi urusan operasional. Pabrik ini punya fasilitas modal kerja Rp 8.000.000.000. Bank menilai kualitas pengendalian internal sebagian dari kecepatan dan konsistensi pelaporan, dan pabrik yang laporan bulanannya keluar tanggal 15 dengan angka yang direvisi dua kali masuk kategori risiko yang berbeda dari pabrik yang tutup buku hari ke-7 tanpa revisi. Selisih harga 0,75 persen pada Rp 8.000.000.000 adalah Rp 60.000.000 per tahun.
Rp 55.632.000 + Rp 144.000.000 + Rp 60.000.000 = Rp 259.632.000 per tahun.
Yang dibaca bank dan investor dari tutup buku yang lambat bukan soal kecepatan. Mereka membaca soal pengendalian. Perusahaan yang butuh 45 hari untuk mengetahui hasil bulan lalu adalah perusahaan yang tidak bisa mendeteksi masalah dalam 45 hari, dan itu penilaian tentang manajemen, bukan tentang tim akunting.
Berapa hari yang realistis untuk pabrik seukuran ini?
Hari kerja kelima sampai ketujuh. Bukan hari ketiga, dan siapa pun yang menjanjikan hari ketiga untuk pabrik dengan dua gudang dan WIP sedang menjual sesuatu.
Empat hal harus benar dulu, dan urutannya tidak bisa ditukar.
Pergerakan barang dibukukan di hari kejadian, bukan dikumpulkan mingguan. Ini yang paling berat, karena ini perubahan kebiasaan di lantai jam dua pagi, bukan perubahan software.
Ada tanggal batas yang ditegakkan. Setelah hari kerja kedua, tidak ada transaksi bertanggal bulan lalu yang boleh masuk. Tanpa aturan ini, buku tidak pernah benar-benar tertutup, cuma berhenti diubah karena semua orang menyerah.
Sub-ledger tutup berurutan sebelum buku besar. Gudang hari 1 sampai 2, produksi hari 2 sampai 3, costing hari 3 sampai 4, buku besar hari 5. Kalau semuanya dikerjakan paralel di hari terakhir, kamu tidak sedang tutup buku, kamu sedang mengejar tenggat.
Selisih diselesaikan saat kejadian, bukan saat tutup buku. Selisih yang ditemukan tanggal 3 dan dijelaskan tanggal 4 itu pekerjaan normal. Selisih yang ditemukan tanggal 12 harus dijelaskan hari itu juga oleh orang yang sudah lupa, dan yang keluar biasanya penyesuaian jurnal, bukan penjelasan.
Sekarang bagian yang paling sering dijual terbalik, dan kami tulis karena kami juga yang biasanya diminta menjualnya. Mengotomatiskan tutup buku sebelum pencatatan pergerakan barang akurat menghasilkan angka yang salah dengan lebih cepat. Kamu akan menutup buku hari ke-6 dengan nilai persediaan yang tetap tidak cocok dengan gudang, sekarang dengan tampilan yang lebih meyakinkan dan revisi yang lebih sulit dilacak.
Urutannya selalu persediaan dulu, lalu produksi, lalu costing, lalu tutup buku. Vendor sering menawarkan urutan sebaliknya, dan alasannya biasanya bukan teknis: finance yang memegang anggaran, jadi modul finance yang paling mudah dijual. Kalau proposal yang ada di mejamu memulai dari modul akuntansi, tanya kenapa, dan perhatikan apakah jawabannya tentang pabrikmu atau tentang jadwal implementasi mereka.
Kategori sistem yang menyatukan gudang dan finance dalam satu basis angka dijual dengan nama ERP, dan yang mengerjakan pekerjaan ini sebenarnya modul inventory dan costing, bukan modul akuntansi yang jadi bintang di demo. Berapa biayanya untuk pabrik di Indonesia sudah kami hitung terbuka, termasuk bagian mana yang biasanya tidak perlu, di rincian biaya sistem untuk pabrik Indonesia.
Satu hal lagi yang merugikan kami untuk katakan. Tutup buku yang lebih cepat tidak menghasilkan uang. Ini perbaikan pengendalian, bukan aktivitas pertumbuhan. Kalau bisnismu stabil, kamu tidak sedang mencari pendanaan, dan banknya tidak pernah menyinggung pelaporan, tanggal 15 mungkin bukan masalah yang paling mahal di pabrikmu bulan ini. Perbaiki akurasi stoknya, ambil manfaat yang muncul dari situ, dan biarkan tanggal tutup bukunya bergerak sendiri belakangan.
Tutup buku yang lambat jarang berdiri sendiri. Biasanya dia gejala terakhir yang terlihat dari rangkaian yang dimulai di gudang, dan bisa kamu petakan lengkap dengan harganya per bulan di pabrik yang sistem produksinya masih manual.
Pertanyaan yang sering masuk
Kenapa nilai stok di akuntansi beda dengan laporan gudang? Empat penyebab yang biasanya ada sekaligus: barang diterima tapi faktur belum masuk, bahan turun ke produksi tapi belum dibukukan keluar, metode harga yang berbeda antara kedua tim, dan bahan yang sedang berada di vendor subkontrak. Cuma yang pertama yang wajar dan hilang sendiri.
Berapa lama waktu tutup buku yang normal untuk pabrik? Hari kerja kelima sampai ketujuh untuk pabrik satu lokasi dengan dua gudang dan barang setengah jadi. Hari ketiga realistis hanya kalau pencatatan pergerakan barang sudah harian dan ada tanggal batas yang ditegakkan.
Bagaimana cara mempercepat tutup buku di pabrik? Mulai dari pencatatan pergerakan barang di hari kejadian, tegakkan tanggal batas di hari kerja kedua, lalu tutup sub-ledger berurutan sebelum buku besar. Mempercepat pelaporan tanpa memperbaiki tiga hal itu cuma memindahkan tekanan, bukan mengurangi.
Apakah harus stok opname dulu sebelum bisa tutup buku? Hanya kalau kamu memakai metode periodic, dan itu justru penyebab utama tutup buku yang lambat. Dengan pencatatan perpetual, nilai persediaan sudah tersedia setiap saat dan opname berfungsi memverifikasi angka, bukan menghasilkannya.
Apakah selisih stok antara gudang dan finance harus nol? Tidak. Selisih dari barang yang sudah diterima tapi fakturnya belum masuk itu normal dan akan hilang sendiri. Yang harus nol adalah selisih yang tidak bisa dijelaskan asalnya, dan itu ukuran yang berbeda dari nol rupiah.
Bulan depan, catat satu angka: tanggal berapa laporan keluar, dan berapa kali angkanya direvisi setelah itu. Angka revisi biasanya lebih banyak bercerita tentang keadaan pabrikmu daripada tanggalnya.